Baru-baru ini terjadi skandal yang menurut gue memalukan. Berapa SMA favorit terbukti melakukan pemalsuan nilai yang menyebabkan UNUD mencekal siswa2 peraih PMDK dari SMA2 tersebut. Berawal dari terbuktinya SMUN 4 Denpasar (SMA gue dulu, hiks…), yang akhirnya dengan terpaksa merambat ke SMA2 yang lain.
Gue sendiri nggak tau kenapa baru sekarang pihak UNUD berani mengungkapkan hal ini. Dan kenapa pula dimulai dari SMUN 4 Denpasar.Soalnya gue tau, (ini adalah pendapat pribadi gue dan kalo ada yang komplin hubungin gue deh) pemalsuan nilai di SMUN 4 ini udah lama berjalan, kayaknya sebelum angkatan gue deh. Dan gue juga tau SMUN 4 tidak sendirian, mereka berani karena bareng2 dan dengan pertimbangan siswa dari sini kualitasnya lebih bagus dari yang lain.
Terbukti siswa PMDK ke Universitas favorite seperti UI (bahkan UNUD) selalu berprestasi lebih dibanding mahasiswa reluger (UMPTN). Agar jatah yang disediakan oleh UI (dan juga UNUD) terpenuhi dan supaya kulitas siswa PMDK meyakinkan untuk pertama kali pandang, nilai rapor merekalah yang diotak-atik. Zat’s why, Kupo. All I know bout da s#!*.
Anyway, ada dua hal yang lucu menurut gue. Pertama reaksi SMUN lain (selain SMUN 4) saat SMUN4 terkena skandal ini. Mereka ikut memberatkan dan saat tudingan itu beralih ke mereka semua dan terbukti, mereka malah membantah. Maling teriak maling. Yang kedua adalah sikap UNUD dalam menangani masalah ini. Setelah semua terbukti mereka malah pake kekerasan, semua siswa dari SMU 1, SMU 3, SMU 4, SMU 7 serta beberapa SMA dari luar Denpasar yang ketahuan nilai rapornya dimark up langsung didiskualifikasi.
Menurut gue mereka keterlaluan, soalnya 29 orang tidak bisa kuliah tahun ini gara2 ulah orang2 yang nggak profesional (kalo bisa dibilang nggak bertanggung jawab). Ini kan bukan salah mereka (sepenuhnya), jadi pikirkan juga donk nasib mereka. Emang enak nganggur selama setahun, sambil liat temen2 yang lain pada kuliah nyengir melihat kita terdampar gara2 salah yang nggak kita perbuat (sepenuhya).
Perkembangan selanjutnya adalah UNUD tetap ngotot dengan pendirian mereka walaupun orang tua para siswa udah unjuk gigi. Pihak UNUD bahkan berlindung di balik hukum bahwa tindakan mereka sah. Gue setuju kalo masalah kasus nilai ini diselesaikan secara hukum sehingga nggak ada lagi yang mengulangi di kemudian hari. Tapi kalo masalah 29 siswa ini gue nggak setuju, setidaknya kasi mereka kesempatan kedua dengan memberikan ujian untuk memperjuangkan kursi mereka kembali.
Dalam analisa gue (yang seadanya), kasus ini di luar Bali udah tercium dari dulu dan sudah diantisipasi oleh universitas2 favourite yang benar2 mementingkan kualitas lulusan mereka. Contoh ITB dan ITS tidak menerima PMDK, UI cuman ke SMA2 tertentu yang menurut mereka mark nilai SMA tersebut sebanding dengan kualitas siswanya, yang lain gue nggak tau. UNUD baru sadar sekarang dan langsung keluarkan jurus ekstrem (seperti street fighter aja). Gue nggak tau mereka kemana aja.
Ah, bosan ngomongin masalah memalukan ini. Lebih baik kita semua belajar sebaik-baiknya, do your best and always positif. Stay away from drugs, free sex and alcohol. Kamu bisa hebat tanpa harus kuliah di universitas favorite. Selama kamu belajar dan membuka dirimu untuk maju kamu bisa mengalahkan mereka yang kuliah. Mutu pendidikan di negara ini masih jelek (yang ini gue berani ngomong di depan Mendikbud). Terlihat dari munculnya kasus2 seperti pemalsuan nilai ini, cara mereka mengatasinya, cara masyarakat memandang lulusan luar negeri dan semakin banyaknya sarjana2 yang ngganggur.
Parah lagi banyak dari mereka yang bekerja tidak pada bidangnya, ini kan udah nggak sesuai dengan apa yang dicita-citakan pendidikan nasional. Oh ya sekali lagi tulisan ini gue turunkan karena gue prihatin dengan kasus ini, banyak emosi yang gue ungkapkan.
IMPORTANT: Gue nggak berharap kamu setuju dengan pendapat2 gue diatas, yang gue minta adalah kamu semua bersikap dan berfikir kritis akan semua masalah termasuk masalah ini. Jangan seperti pers kita yang menulis apa yang mereka lihat dan dengar dengan seadanya tanpa disertai analisa ilmiah yang cukup mendalam. Gue berharap pihak UNUD dan semua pihak yang terlibat memandang masalah ini dari dua sisi yang berkepentingan, sehingga maslah ini nggak terjadi lagi dan nggak ada cama yang dirugikan.
From Asn to Rik: Gile loe, ndro…
From Asn to readers: Ambil sisi baeknya. Kru TdB dan semua siswa yang laen mungkin hanya minta 1 hal, “Let’s make a better education-system….








