Taukah Kamu?
di bali, ga ada sistem RT/RW. sebage penggantinya digunakan nama banjar, yg luas daerahnya kira2 sama dengan RW
Arsip Penulis
by Asn - 13 Oct 2007 @ 17:03 · Kategori Bali Sehari-hari
Berlebaran di Bali dijamin akan memberikan suasana yg berbeda dengan daerah-daerah laen, terutama di Pulau Jawa. Kita mencoba merangkum fenomena-fenomena yang biasa terjadi pada setiap lebaran di Bali di bawah ini. Keep reading, guys..
Yang paling mencolok, jalanan menjadi sepi. Kemacetan yang biasanya bisa bikin elo maki2 dalam perjalanan ke kantor, mendadak hilang. Bahkan di jalanan Seminyak-Kuta sekalipun, naek kendaraan bisa jadi ajang berekpresi ala NASCAR ato MotoGP. Baca lanjutannya dong »
| Versi cetak | Email ke temen | 1,619 views


by Asn - 07 Jul 2007 @ 23:42 · Kategori Ilmu Pengetahuan
Hari Raya Galungan dan Kuningan sering disebut sebagai hari “Lebaran”-nya orang Bali. Pada hari tersebut selaen melaksanakan upacara keagamaan, umat Hindu Bali umumnya pada rame-rame pulang kampung bersama keluarga.
Dalam hitungan kalender Bali, Galungan jatuh pada hari Rabu (Buda) Kliwon, wuku Dungulan dan akan jatuh setiap 6 bulan Bali atau 7 bulan kalender masehi (210 hari). Walopun umumnya Galungan terjadi 2 kali dalam setahun, namun di tahun 2007 ini Galungan hanya terjadi 1 kali.
Sementara Kuningan jatuh pada hari Sabtu (Saniscara) Kliwon wuku Kuningan, tepat 10 hari setelah Galungan. Di masa-masa penulis SD dulu, biasanyalibur sekolahan ‘bersambung’ selama 2 minggu, terhitung dari Hari Senen 2 hari sebelum Galungan sampai berakhirnya Hari Kuningan. Tapi kayanya sekarang liburan dipangkas hanya pada puncak upacara saja.
Baca lanjutannya dong »
| Versi cetak | Email ke temen | 2,834 views

by Asn - 06 Jun 2007 @ 23:59 · Kategori Bali Sehari-hari
1. Di tengah suasana pariwisata bali yg megap2 (jgn percaya berita tv kalo pariwisata bali is REALLY REALLY OK, we don’t need an ‘asal-bapak-dan-rakyat-senang’ type of good news) villa rental menjadi sebuah tren baru. Buat apa bayar US$ 300 semalam untuk sebuah kamar president suite hotel bintang 5 berukuran 20×20 meter, kalo dengan harga yg sama kamu bisa mendapatkan:
- private villa dgn luas 4-5 are dgn tropical garden
- swimming pool berukuran 10×15 meter
- 3 bed room
- open air bathroom seluas 5×5 meter
- 1 ato 2 orang dedicated butler yg selalu siap melayani
- 40″ LCD TV dgn 32 channel + home theatre
- broadband internet access
- privacy, silent environment, dedicated security
- etc etc etc
Ntah villa-nya punya license ato ga, who care? hotel besar pada bankrupt, sapa yg salah? it does’t need a brain to know why people choose villa instead of hotel.
Baca lanjutannya dong »
| Versi cetak | Email ke temen | 2,393 views


by Asn - 10 Apr 2007 @ 23:15 · Kategori Tips 'en Info JJS
Berhubung banyaknya request untuk memberi lebih banyak info soal tempat makan di Denpasar dan sekitarnya, kita update2 lagi postingan terdahulu (ditulis skitar 2 tahun lalu hehe). Banyak yg berubah. Yg dulu enak sekarang payah. Yang dulu murah jadi mahal. Tapi ada juga yg membaik, plus beberapa tempat makan baru. Istilahnya “the rising warteg”, halah…
Review ini khusus makanan umum yg relatif murah. Sumber dari pengalaman mencoba2 dari para kru tdb sendiri plus beberapa referensi. Bagi yg doyan steak bisa baca postingan kita terdahulu Steak Murah di Denpasar. Untuk tempat makan kelas cafe/restaurant dan tempat dugem (party zone) akan segera menyusul. Ok. kita mulai dari yang murah2 dulu.
Cak Asmo
Jl. Komodo, Sanglah - Denpasar
Salah satu yg paling populer di tengah kota Denpasar. Menu nya mulai dari cap-cay, nasi goreng (ayam, spesial, sea-food dan masih ganyak variasi lagi), mie goreng and kuah, fuyung hay, bakso and semacemnya. update: sekarang ada siomay. Soal rasa, disini ok lah. Harganyajuga bagus. Nasi goreng ato capcay skitar Rp. 4000 - 6000 seporsi. Dengan Rp. 20.000 udah bisa buat makan bedua sampe perut kembung.. Baca lanjutannya dong »
| Versi cetak | Email ke temen | 11,776 views
Random Post from English Version
by Asn
Dutch Administration
The Balinese became the darlings of the Dutch authorities. Indeed, the Dutch administration took a patronizing attitude toward the people and their culture, allowing the Balinese to continue using their own language and practice their own ‘adat’. Although the remaining pro-Dutch princes were deprived of political powers, they maintained much of their influence and importance as patrons of the arts.
We must also be forever thankful to the Dutch for keeping the missionaries out of Bali; it was more convenient for them to control the people through their liaisons with local leaders and let religion take its own course. So little did Dutch colonialism affect Bali that even up until the 1970s, before the building of the international airport, a rural Balinese village was probably very similar to a Javanese village of the 17th century.
Foreign visitors and tourists were vigorously discouraged from visiting Bali. A small group of dedicated Dutch officials safeguarded Bali’s culture, which enjoyed a rebirth during the first three decades of Dutch rule. One can still see in the highlands above Singaraja and in Denpasar steeple homes with double doors, wrought-iron grillwork gates and hanging porcelain lamps, remnants of Dutch efforts to Hollandize Bali.
read more...

Page 1 of 812345»...Last »