home kontak kita
Tour de Bali - Bali buat Paramuda

Taukah Kamu?

di bali, ga ada sistem RT/RW. sebage penggantinya digunakan nama banjar, yg luas daerahnya kira2 sama dengan RW

Arsip Penulis

Page 2 of 4«1234»

Museum Subak

Museum Subak ini terletak di Desa Senggulan yaitu 2 km sebelah timur kota Tabanan dan sekitar 4 km sebelah barat dari persimpangan jalan menuju Kediri. Kebayang kan. Kalo kamu menggunakan angkot Ubung-Tabanan-Gilimanuk maka kamu harus turun saat melihat papan iklan Taman Senggulan Restaurant, gede, mudah terlihat dan terletak di sebelah utara jalan. Bagaimana kalo nggak ketemu? Ya langsung ke pelabuhan dan pulang ke asal kalian masing2. Goddamn..(Pardon my languange, i’s a joke anyway)

Kalo kamu turun di sini, sebrangi jalan dan jalan kira-kira 350 meter. Setelah melalui jalan yang sedikit menajak maka kamu akan melihat papan kecil Mandala Mathika Subak. Yup, museum ini cuman satu ruangan dan memajang alat-alat pertanian tempo doeloe dari Bali. Ada alat-alat yang digunakan selama proses menuai padi, alat untuk membajak sawah, perangkap ikan, penangkap belut, jaring buat nangkap capung, miniatur desa pertanian bali kuno, miniatur dapur tradisional. Buka setiap hari kecuali Minggu dari jam 07.30 dampe 18.30. Dan please..please berilah sumbangan. Any kind of dokat will do. Thanks.

Puputan Badung

Emang pas bener kalo tempat ini dibilang pusat kota. Pasalnya taman ini bener-bener dikelilingi oleh tempat-tempat yang penting. Di sebelah timurnya, ada Museum Bali yang dampingan ama pura besar, Jagatnatha. Sebelah utara alun-alun ini adalah rumah dinas Gubernur Bali. Trus, di sebelah selatannya, berdiri patung yang tingginya 5 meter yang pas banget dibangun di perempatan jalan. Patung itu tuh yang tenar dengan nama “Catur Muka.

Tempat ini pas banget buat kita-kita yang emang pengen ngilangin suntuk habis seharian kerja atawa sekolah. Tempat yang rindang dan kamu pasti temui banyak juga orang-orang kantoran yang datang ama keluarganya. Sejuk, bo!!! Baca lanjutannya dong »

Alas Kedaton

Terletak di sebuah desa yang cool and damai di daerah Tabanan, ada lagi sebuah areal hutan penuh monyet selaen Sangeh. Bonusnya, ribuan kalong and sebuah pura. Kamu tau kalong? Kaya kelelawar cuma lebih gede aja. Bentangan sayapnya bisa mencapai 1 meter.

Monyet disini konon ramah-ramah. Paling ngga, katanya lebih ramah dari yang di Sangeh. Tapi nyatanya, ngga beda jauh. Yang namanya monyet tetep aja nakal. Kalo ngga hati-hati, barang bawaan kamu diembat and dilari-in masuk hutan. Be careful aja…

Yang paling asik dari Alas Kedaton mungkin cuman satu, jadi tau gimana rasanya maen ama monyet seabreg. Asal loe ngga macem-macem, biasanya doi (si monyet) jadi agak kalem. Apalagi kalo dikasih sesuatu kaya kacang ato makanan laen, jadi jinak deh. Cuman gue saranin, jangan dibawa pulang. Naka-nakal gitu, mereka termasuk satwa dilindungi di Bali.

Kuburan Jayaprana

Satu legenda bekennya orang bali adalah cerita Jayaprana. Kalo kamu demen ngedengerin cerita-cerita rakyat, kamu pasti pernah denger kisah Jayaprana ini. Menurut legenda Bali, Jayaprana adalah seorang prajurit kepercayaan dari Raja Bali Anak Agung Gde Murka.

Nah, kebetulan sekali, istri Jayaprana ini cantik banget, namanya Layon Sari. Karena ternyata si raja ini demen ama Layon Sari, akhirnya dikirimlah si Jayaprana ke Teluk Terima membantai para pembajak. Tapi, kenyataannya, dia lalu dibunuh ama mentri raja, atas perintah si raja. Waktu tahu suaminya meninggal, Layon Sari lalu bunuh diri. Baca lanjutannya dong »

Yeh Panes

Sumber air panas Yeh Panes Panetahan, terletak sekitar 12 km sebelah utara kota Tabanan. Sumber air panas ini dijadikan pemandian air panas oleh tentara Jepang saat kependudukan dulu. Mereka memperlebar sumber air panas dan membangun tempat berendam. Pada tahun 60-an disekitar mata air dibangun villa-villa mewah buat turis. Namun karena kekurangan biaya operasional, alias bangkrut, bangunan tersebut terbengkalai dan ditempati’memed’ yaitu sebangsa roh halus. Suara-suara wanita kerap kedengaran di sana. Cuman gue belum tahu suara wanita yang bagaimana dan lagi ngapain gitu yang kedengeran. Tapi yang jelas serem.

Sekarang pemandian air panas ini menjadi satu-satunya pemandian air panas di Bali yang didesain khusus buat spa. Tempat ini mudah dicapai dari Jalan Batukaru (jalan menuju Gunung Batukaru) dan disebelah timur tempat parkir terdapat pemandian air panas buat umum. Jadi, mandi disini adalah bebas biaya alias gratis. Baca lanjutannya dong »

Gitgit

Yang namanya air tejun, dimana-mana itu pasti nyenengin banget. Di bali ada air terjun yang lumayan beken juga, yaitu air terjun Gitgit. Air terjun ini asalnya dari ketinggian 45 meter dan luas banget.

Mau masuk ke sini, kamu kudu ngelewatin toko-toko kecil yang jualan suvenir trus ada kebun kopinya lagi. Udah pasti nyebarin wangi khas kopi. Jalan masuk ke air terjunnya sendiri, lumayan jauh. Musti liwat jalan kecil, tapi sampenya kamu di air terjunnya, segala capek pasti lewat…

Mo nginep? Ada juga penginapan-penginapan. Kali-kali kamu lagi BeTe, pengen nginep, sambil mandangin air terjun, waaahhhh,…… kebayang asyiknya, nggak?

Random Post from English Version

History of Tourism

Ever since two members of van de Houtman’s crew jumped ship in 1597, Bali’s utterly unique, highly developed culture has been endlessly fascinating to Westerners, the paradigm of tropical beauty and exotic adventure.

The Dutch steamship line KPM began calling at the northern Bali port of Buleleng in the late 19th century, though its cargoes consisted mostly of pigs, copra, and coffee rather than tourists. Following quickly upon the ‘puputan’ of 1906, Bali’s first tourist was Dutch parliamentarian H. Van Kol, who reached Bali at his own expense and toured the island with a senior Dutch official. Upon his return to Holland, he wrote of his travels on Bali in a book called Out of Our Colonies. By 1914 KPM was producing brochures rhapsodizing about Bali as an enchanted Garden of Eden.

Next came a classic book of photos of wild dances, corrupt kings, and bare bodies, published in Germany in 1921 by Gregor Krause. As early as the 1920s, the island drew a steady stream of affluent, intrepid, genteel world vagabonds; these visitors perplexed the Dutch, who looked upon their tour of duty on quiet Bali as a boresome necessity.
In the 1930s the documentaries Isle of the Demons and Goona-Goona depicted Bali as a paradise on earth.

Page 2 of 4«1234»

putrabali.net - solusi webhosting murah dan berkualitas