home kontak kita
Tour de Bali - Bali buat Paramuda

Taukah Kamu?

urutan pemberian nama2 untuk orang bali bersaudara, mulai dari yang tertua sampai termuda adalah: wayan/gede/putu -> made/kadek/nengah ->nyoman/komang -> ketut

Arsip 'Keliling Bali'

Page 4 of 13« First...«23456»...Last »

Penulisan

Penulisan berarti tempat untuk menulis. Anda dapat menemukan tempat ini sekitar 8 km utara Kintamani di sebelah kiri tikungan pada salah satu jalan terbagus di Bali. Yang menarik perhatian di pinggir kawah Batur adalah dengan adanya pura tertinggi ( 1745 m ) dan mungkin yang tertua di Bali. Penulisan dipercaya memiliki gunung suci para raja dari dinasti Pejeng.

Dari Sukawana, naik ke arah timur sampai Pura Penulisan, ambil jalan naik mengikuti pinggir utara kawah dimana anda dapat melihat pemandangan kawah menyerupai permadani cantik. Jalan menuju Pinggan di sebelah utara kawah, kemudian berliku di tenggara menuju Songan. Baca lanjutannya dong »

Ulun Danu, Pura

Pura Ulun Danu merupakan pura subak yaitu pura yang disungsung oleh para petani. Dibangun oleh raja Mengwi pada tahun 1633, kompleks pura ini mempunyai arsitektur campuran Hindu dan Budha. Ditandai oleh stupa Budha di sebelah kiri dan saat melewati pintu masuk kamu akan langsung berada di bagian utama Pura Teratai Bang.

 

Bagian pura ini didominasi oleh banguan’mer’ bertingkat tujuh. Kemudian ada pura yang lebih kecil yang digunakan sebagai tempat pemujaan dewa makanan dan minuman yang disebut Pura Dalem Purwa. Baca lanjutannya dong »

Marga, Desa

Di Desa Margarana ini terdapat Monumen Margarana yang merupakan penghormatan kepada para pejuang Bali yang meninggal selama revolusi fisik melawan Belanda. Para pejuang Bali mengangkat senjata setelah bangsa ini menolak tuk menolak menyerah kepada Belanda dan menyatakan kemerdekaannya.

Bali yang pada waktu itu kekurangan pasukan meminta Jawa untuk mengirimkan bantuan. Nah untuk mengalihkan perhatian Belanda dari pendaratan tentara Jawa di Negara, Letkol I Gusti Ngurah Rai memimpin pasukannya mengadakan long march ke Gunung Agung. Baca lanjutannya dong »

Tirta Empul

Alkisah zaman doeloe sekali, para dewa perang ama raksasa. Waktu itu perang dipimpin oleh Batara Indra dari kubu dewa, and Mayadenawa dari kubu raksasa. Pendek cerita, pasukan dewa berhasil menang, tapi…prajurit dewa banyak yang tewas. akhirnya Batara Indra membelah bumi ampe keluar air suci dari situ, dan air itulah yang kemudian menghidupkan lagi prajurit-prajuritnya. Kamu mo tahu, mata air itu ternyata ada di pulau bali, dan beken dengan nama Tirta Empul.

Mo tahu lanjutan ceritanya???? (kita lagi baek nih, mo cerita, makanya disimak yang baek juga ya?). Mata air ini lalu dikembangin ama raja bali waktu jaman itu, Sri Candrabhaya Singha Warmadewa di abad ke-10, ampe akhirnya jadi kompleks pemandian yang cantik ampe sekarang. Baca lanjutannya dong »

Pura Beji

Pura beji ini terletak di Desa Sangsit. Menurut catatan kemajuan wisata, pura beji ini hampir tidak pernah dilewatkan oleh para turis yang mengantar tamunya ke Buleleng. Sebenernya pura ini amat sederhana, tapi keunikannya itu rasanya hanya bisa ditemui di sini.

Pura ini adalah pura buat memuja Dewi Sri, dewi kesuburan. Tapi yang paling menonjol disini adalah ukirannya. Bisa dibilang hampir ndak ada ruang atau tempat yang lolos dari ukiran yang notabene adalah ukiran khas Buleleng

Trunyan

Daerah di seberang danau Batur adalah daerah yang masih asing buat orang kebanyakan. Di situ terdapat sebuah desa yang dipercaya masyarakat Bali umumnya masih asli banget. Ya…, lo bayangin aja kaya badui di Jabar. Cuman saat ini, penduduk desa ini (Trunyan) udah bisa membuka hubungan dengan dunia luar.

Untuk mencapai desa tersebut, kita mesti naek perahu dari kawasan pariwisata Danau Batur. Kalo udah nyampe sana, ya ramah..ramah dikit lah. Jangan terlalu over-akting. Masyarakat disini dikenal sebagai “Baliaga” atau bali yang masih asli. Dan mereka ngga suka keributan. Baca lanjutannya dong »

Random Post from English Version

Mount and Lake Batur

After Agung, Batur is the most sacred mountain on Bali. Most often the mountain’s only sign of life is an occasional wisp of smoke that drifts across its lava-blackened slopes. However, when this 1,717-meter volcano erupts, it glows red, bellows and throws out rocks and showers of volcanic debris.

History
Batur was initially formed in the shape of a sharply pointed cone over 3,500 meters above sea level. A terrific explosion blew the point off the cone, atomized a large portion of the volcano and collapsed the bulk of the mountain into the magma chamber, which was emptied by the initial cataclysm.

Before the present caldera was born, Penelokan and Kintamani lay on the western slope of the “first” Gunung Batur. Now Penelokan and Kintamani are spread out along the top of the caldera’s outer crater rim. The present younger, smaller volcano-of the effusive rather than explosive type-gradually grew out of the crater floor over a period of hundreds of thousands of years.

Page 4 of 13« First...«23456»...Last »

putrabali.net - solusi webhosting murah dan berkualitas