Desa Marga

Di Desa Margarana ini terdapat Monumen Margarana yang merupakan penghormatan kepada para pejuang Bali yang meninggal selama revolusi fisik melawan Belanda. Para pejuang Bali mengangkat senjata setelah bangsa ini menolak tuk menolak menyerah kepada Belanda dan menyatakan kemerdekaannya.

Bali yang pada waktu itu kekurangan pasukan meminta Jawa untuk mengirimkan bantuan. Nah untuk mengalihkan perhatian Belanda dari pendaratan tentara Jawa di Negara, Letkol I Gusti Ngurah Rai memimpin pasukannya mengadakan long march ke Gunung Agung.

Rencana ini diketahui Belanda dan pada tanggal 20 November 1946 mereka mencegat pasukan Bali di Desa Marga ini. Pesawat pembom B-52 dikerahkan Belanda, pasukan bersenjata lengkap disiapkan. Pasukan Bali yang kalah jumlah, yang kalah persenjataan (banyak yang masih bawa bambu runcing), kalah putih dan kalah tinggi tapi nggak kalah keren.

Mengetahui peluang mereka kecil, I Gusti Ngurah Rai memerintahkan untuk puputan. Puputan artinya sampe tetes darah terakhir kasarnya habis-habisan sampe nyawa ini tidak lagi bertahta di tubuh ini. Prinsipnya lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup menanggung malu. Merdeka..merdeka..Hup..hup. Ntar, gue narik napas dulu.

Akhirnya, 96 orang gerilyawan yang gagah berani itu tewas di Desa Marga. Kabut mesiu dan hawa kesedihan ibu pertiwi mengalir bersama tetesan darah putra-putra terbaik bangsa. Semangat dan kemerdekaan yang mereka perjuangkan tumbuh subur di bumi ini dan menjelma kepada jiwa setiap insan yang tumbuh yang meminum air dan menghirup udara di pertiwi ini. Kisah mereka kan abadi dan gue nggak akan mundur sebelum dia luluh dan menyerahkan hatinya. Pokoknya MERDEKA!!

Begitulah untuk mengenang jasa para pahlawan yang berjuang demi kemerdekaan bangsa ini maka pada tahun 1954 dibangunlah monumen Margarana (Pertempuran Marga) ini. Terdapat 1.372 monumen yang melambangkan jiwa putra maupun putri bangsa yang tewas selama mengusir Belanda, termasuk juga 11 orang Jepang yang ikut membantu kita. Mereka berjuang tanpa membedakan agama, ras dan suku bangsa, semua bersatu. (Nggak seperti sekarang..saling tikam.)

Pejuang yang beragama Kristen mempunyai makam dengan salib di atasnya, Muslim dengan bulan sabit, Hindu dengan swastika. Nama I Gusti Ngurah Rai sendiri diabadikan sebagai nama bandara udara di Denpasar dan sebuah tugu setinggi 17 meter dibangun di tengah-tengah makam sebagai lambang persatuan dan semangat para pejuang. Pada tugu ini terukir surat I Gusti Ngurah Rai kepada Belanda yang isinya dengan tegas menyatakan kebulatan tekadnya untuk mengabdikan jiwa dan raganya pada perjuangan bangsa ini untuk merdeka.

10 thoughts on “Desa Marga”

  1. wah menggebu-gebu banget ceritanya nih bli admin, sampai ngos2an ceritanya, minum air putih dulu bli sambil ambil nafas!!nah gimana sekarang mendingan kan??disana juga ada museum untuk mengenang jasa2 pahlawan kita,surat2 yg dibuat masih menggunakan ejaan lama!!lumayan lengkap artikelnya bli, MERDEKA!!

  2. yup,saya sangat tertarik dengan artikel anda di atas. Tapi cepetan ya diisi gambarnya biar lebih jelas… he…3x terima kasih atas waktunya?

  3. yap! benar sekali apa yang dikatakan admin. Emang kita harus meniru semangat perjuangan yang dilakukan pahlawan indonesia di tempoe doeloe dengan cara kita sendiri yaitu pdkt secara puputan.
    {apalagi ama cewek dari marga}:)

  4. Salute atas perjuangan pahlawan kita Overste (Letkol) I Gusti Ngurah Rai dg Puputannya. Api Perjuangan kalian tidak akan pernah padam di hati kami bangsa Indonesia.
    Untuk penulis, di-exlopre lagi siapa beliau dan kalo perlu anak buahnya.
    Pokoknya hormat kami untuk pahlawan Bali sebagaimana kita menghormati Djenderal Soedirman dll. Tanpa mereka kita ndak bisa begini Merdeka.
    Salam hormat dari Jawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *