Budaya

Banjar, Organisasi Tradisional Masyarakat Bali

Bale Banjar

Contoh gambar 3D dari bangunan Bale Banjar jaman sekarang. Sumber: Danur78’s DevianArt

Dalam membaca artikel-artikel tdb, pengunjung banyak yang tanya: apa seh banjar?

Banjar merupakan organisasi kemasyarakatan masyarakat tradisional Bali. Organisasi ini seperti sistem RT/RW pada masyarakat Indonesia modern. Sudah ada sejak jaman dahulu kala dan mulanya dikenal dengan nama subak.

Awalnya subak itu merupakan organisasi yang hanya mengatur masalah-masalah di sawah (sebelum bule-bule datang menjajah negeri ini dan kemudian berjemur di pantai) berhubung masyarakat Bali saat itu sebagian besar mata pencahariannya bertani.

Dalam subak ini diatur masalah pengairan, sehingga tidak ada masalah rebutan sumber air. Juga masalah lain yang berkaitan dengan pertanian seperti misalnya penanggulangan hama, pengadaan upacara di pura subak, membantu anggota yang sawahnya panen dan sebagainya.

Gue sebenarnya tidak banyak melihat kegiatan para anggota subak karena gue lahir pada jaman bule-bule sudah berjemur telanjang di pantai, dimana sawah-sawah sudah banyak menjadi villa buat bule-bule itu.

Jenis Banjar

So, cukup mengenai subak dan kita kembali ke banjar. Banjar, dengan berkembangnya jaman juga mulai berubah, tepatnya bertambah fungsi. Kalo dulu hanya untuk kepentingan di sawah, namun sekarang banjar juga mengurus masalah administrasi dari pemerintahan (Pemerintah Negara Republik Indonesia yang dalam teorinya bersatu, berdaulat, adil dan makmur).

Menurut bidang geraknya banjar dapat dibagai 4 bagian, namun kita akan bahas 2 bagian aja, mengingat 2 jenis banjar laennya agak mirip dalam fungsi:

Banjar Dinas, ketuanya disebut kelian dinas, fungsinya lebih ke urusan adminsistrasi. Urusan administrasi seperti membuat KTP, Kartu Keluarga dimulai disini. Trus birokrasi di Negara Indonesia tercinta ini akan mempersilakan dengan sopan kepada pemohon KTP, KK untuk mengurusnya kemudian di Kantor Camat atau Catatan Sipil. Efektif untuk menyibukkan pegawai kantor dan menguji kesabaran.

Banjar Adat, ketuanya disebut kelian adat. Urusan sosial seperti saat ada kematian, upacara perkawinan krama banjar serta upacara-upacara keagamaan diatur disini. Kelian adat dan kelian dinas suatu banjar ngga selalu orang yang sama. Namun, walaupun misalnya punya dua orang kelian, dalam setiap sangkep (musyawarah, pertemuan) apapun, kedua kelian ini biasanya diwajibkan hadir.

Berbeda dengan system RT/RW yang memakai angka (nomor maksudnya bro…), system banjar dibedakan atas namanya. contoh: Banjar Tegalantang Klod (banjar gue he he), trus ada Banjar Tegallinggah, Banjar Pemedilan, Banjar Kerandan and ribuan lagi . Umumnya nama banjar itu sangat khas berbau Bali.

Jumlah banjar di tiap kelurahan juga sangat beragam. Umunya sekitar 5 sampai ratusan banjar, tergantung dari seberapa luas wilayah kelurahan tersebut.

Prinsip Banjar

Peranan banjar di mata gue sangat penting. Sebab inilah organisasi dimana rasa kekeluargaannya sangat tinggi, setidaknya begitulah didaerah gue. Prinsip utamanya adalah saling memberi dan menerima. Kasarnya kalo kamu tidak memberi maka kamu tidak akan menerima. YES, ini kalimat paling jenius yang pernah gue ketik.

Bila dalam setiap kegiatan banjar seperti gotong-royong, upacara kematian, perkawinan dan sebagainya, seorang krama banjar sering tidak hadir dengan alasan yang tidak jelas (seperti sibuk kerja), maka apabila nanti orang itu mempunyai kegiatan/upacara, jangan harap ada anggota banjar yang akan hadir dirumahnya untuk membantu.

Kalo sekedar upacara biasa atau perkawinan sih nggak apa-apa, kita masih bisa mengundang teman-teman lain untuk memeriahkan suasana dan membeli seluruh sarana upacaranya. Bagaimana dengan kematian? Orang mati bisa jalan sendiri ke kuburan apa? Dan biasanya ‘teman-teman’ itu hanya akan dekat kalo kita membagikan kesenangan bukan untuk memandikan jenazah dan mengusungnya ke kuburan.

Separah itu? Ngga juga lah

Biarpun misalnya ada seorang krama banjar tidak pernah ikut dalam kegiatan banjar itu meninggal, maka krama banjar yang lain biasanya tetap datang ke rumahnya dan melakukan segala sesuatu yang diperlukan, walaupun dengan paksa rela.

Sebab dalam pandangan banjar lain adalah memalukan jika sampai saat terakhir krama banjar tetap tidak memberi maaf dan berharap keluarganya yang tersisa akan kembali aktif dalam kegiatan banjar.

Oh ya, satu keluarga tidak harus mengikutkan seluruh anggota keluarganya dalam setiap kegiatan banjar. Misalkan jika bokap gue berhalangan yaaa bisa diwakilkan oleh gue atau nyokap gue. Kecuali jika kegiatan itu melibatkan kegiatan yang sensitif terhadap jenis kelamin, seperti memotong bambu buat upacara tertentu, ya harus diwakili cowok, demikian juga sebaliknya.

Banjar vs Pendatang

Mungkin ada pertanyaan, bagaimana kah nasib para pengembara dari luar Bali yang terpaksa harus terdampar di salah satu banjar di Bali? Dengan berat hati gue akan bilang sungguh tidak beruntung nasib orang itu. Kidding bro :D

Yang jelas tidak ada paksaan bagi para pendatang untuk masuk menjadi anggota banjar. Namun belakangan ini masyarakat Bali mulai sensitif dengan para pendatang. Setiap pendatang di suatu banjar akan dicari dan diperiksa apakah sudah mempunyai KTP. Kalo belum ya harus buat. Trus mereka juga harus mempunyai pekerjaan tetap yang tidak bertentangan dengan hukum dan undang-undang.

Kalo pekerjaan tetapnya semacem maling ato garong, yaaa maap, mereka akan dipulangkan ke daerahnya. Setidaknya begitulah ancaman gue kepada para tukang sablon deket rumah.

Pendatang sebenarnya bukan masalah, hanya saja keberadaan dan identitas mereka harus jelas. Sebab sering terjadi kasus dimana bule-bule banyak ngontrak rumah trus ngakunya bisnis barang antik, eh.. taunya bandar narkoba internasional.  Trus ada yang berkedok kos-kosan, yang mana gue hampir ikutan kumpul kebo di sana.

Begitulah, karena mereka bukan krama banjar yang lahir dan besar DAN terawasi di daerah banjar tersebut, maka diambil pendekatan hukum untuk memantau mereka. Jangan sampai kegiatan mereka merugikan orang lain dan mencemarkan nama baik banjar.

Akhir kata banjar merupakan wujud kesadaran berorganisasi masyarakat Bali yang sudah tercipta sejak dahulu. Walaupun gue tidak bangga karena negara ini masih tetep ngutang kepada IMF namun gue senang menjadi krama banjar dengan sistem kekeluargaannya. Dan mudah-mudahan pemerintah tidak lagi memaksakan sistem RT/RW kepada masyarakat Bali.

Diterjemahkan dari sebuah website berbahasa ‘spanyol’ oleh rik Diedit sambil ngopi nescafe 3 in 1 oleh asn

Tentang Penulis

konsultan, article contributor, trouble maker, apple fan boy. temen sekelas asn dari jaman smp yg juga seorang internet master, linux expert, techno en movie freak. saat ini menjabat sebagai GM sebuah ISP di Jakarta. side job nya adalah kolektor film HD segala macam genre yang selalu up-to-date

  • archon

    gw kirain ditulis ama loe berdua! asn ama rik…
    tapi keren jugalahhh.. :D :D

  • jenny_maniezzz

    artikel lo ini oke loh… bravo!!!!! gue ketolong ama artikel ini waktu buat tugas mata kul. sosial budaya mengenai sistem banjar di bali. Thanks berat yakk…….. :-)

  • adi

    trims, artikel ini ksh banyak masukan buat aku yang pendatang baru di bali, kira2 ap ad artikel2 lain tntg tata krama masyarakat bali dsb. khususnya semacam panduan buat pendatang tetap or musiman, tntang apa2 yg perlu n harus or hindari or bahkan jangan dilakukan

  • http://nurhadi13.wordpress.com Sige

    Alow bro, wah nyame ne mantab sajan..salute..mari kita jaga Bali dngan tetap peduli pada foundasi Banjar yang ada saat ini..

  • j_ainal

    artikel ni idenya cp nich?

  • Rino Argata

    Broo..System banjar yang berbudaya sekali tapi modern juga, kira-kira mau ga ya kalo gw ajak berbisnis?ya hitung2 ada pemasukan utk mengembangkan banjar. kalo bisa?gw harus ketemu ama siapa ya?

    thanks

  • http://www.rumahherbal.co.id Hans

    Terima kasih, artikelnya sangat membantu.
    Sudah beberapa kali berkunjung ke bali, baru sekarang ngerti apa itu banjar. :)

  • chomank anda

    bro, makasih banged.. tulisan na membantu banged buat aq yang besar di perantauan gene. pas kebetulan dapat judul skripsi tentang banjar,…. membantu aq banged dalam penelitian n ga usah susah2 terbang ke bali buat nyari info tentang banjar.. makasih bro….

  • dewi

    suksema bli…….infonya bisa bantu ane buat lanjutin skripsi…..kalo tulisan tentang lungsuran ada gak?

  • NOVI

    artikelnyaa kerennn, bisa membantu buat nambah isi karya tuliss ku

  • I NGUNIYA DT.

    titiyang sebagai krama adat ring bali setan jagi nureksa, nulis, menanggapi informasi puniki :
    1. banjar dinas, itu setingkat RW, kalau RT kan antargang, biasanya namanya (tdk resmi) ketua gang.
    2. banjar dinas, jika wilayah tsb berbentuk desa (dinas), jika wilayah tsb berbentuk kelurahan, maka namanya adl Lingkungan : Kepala Lingkungan.
    3. Bisa jadi satu kelurahan ada >1 desa adat (BEDA ANTARA DESA DINAS & DESA ADAT).
    4. BALI JUST FOR BALINESE, WASPADAI PARA PENDATANG…!!!!

  • Pingback: KEBUDAYAAN BALI | msusendanurawan()