Mengunjungi Desa Trunyan

Hari ini gue bakal cerita tentang perjalanan gue dan dua temen gue, Prita dan Okta ke Desa Trunyan. Trunyan berada di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Desa Trunyan merupakan desa tua, atau sering disebut Bali Aga atau Bali Mula. Akhirnya gue kesampean juga menginjakkan kaki ke kuburan Desa ini yang terkenal. 😀

Nah, untuk mencapai kuburan Desa Trunyan gue menyeberangi danau Batur dengan menggunakan perahu. FYI: Kita harus pandai-pandai nawar ya soalnya suka ditembak harganya. Untungnya temen gue orang Bali asli jadinya bisa ngomong bahasa Bali itupun masih aja dapet harga Rp 240.000 bertiga dan udah bolak-balik. oke? 🙂

Tepi Danau Batur

Gue sangat amat senang ketika gue sampai di desa ini namun gue sangat menyayangkan tradisi warga desa Trunyan yang kurang baik yaitu minta-minta duit kecil. Hal itu akan banyak kita temui disana. Tidak hanya anak kecil, orang tua sampai lansia pun melakukan hal tersebut padahal hal tersebut sangat mengganggu dan dapat mengurasi kesan yang baik bagi pariwisata desa Trunyan sendiri.

Yang terkenal dari desa ini adalah cara pemakaman jenazahnya yang sampai saat ini masih dilaksanakan. Tradisi ini hanya dilakukan oleh warga desa Trunyan aja loh. Di desa ini orang yang telah meninggal gak dikubur atau dibakar (Ngaben) yang merupakan tradisi masyarakat Bali. Tubuh orang yang telah meninggal setelah melalui sebuah prosesi akan dilapisi kain kemudian diletakkan diatas tanas di bawah pohon trunyan dan dikelilingi anyaman dari pohon bambu yang disebut ancak saji.

Ancak Saji

Desa Trunyan memiliki tiga jenis kuburan yang terdiri dari kuburan anak-anak, orang dewasa yang belum berkeluarga dan orang-orang yang telah berkeluarga. Hanya jenazah yang sudah dewasa dan meninggal secara normal serta tidak cacat yang bisa dimakamkan seperti itu. Untuk jenazah bayi dan meninggal secara tidak normal seperti bunuh diri, dibunuh ataupun kecelakaan dimakamkan di tempat lain.

Di sekitar kuburan ini lo bakal banyak melihat tulang-tulang berserakan di tanah, tengkorak manusia yang telah disusun rapi. Serem sih tapi bikin penasaran banget cuy. Hahahahaha

Tengkorak

Dan yang paling heboh adalah lo gak bakal mencium bau yang tidak sedap dari tubuh orang yang telah meninggal tersebut. Hal ini karena adanya Pohon Trunyan. Trunyan berasal dari dua kata yaitu “taru” yang berarti pohon dan “menyan” yang berarti harum. Jadi pohon ini berfungsi menyerap bau yang tidak sedap yang dikeluarkan oleh jenazah sehingga tidak tercium lagi bau yang tidak sedap itu.

Sekian cerita gue tentang perjalanan gue ke desa Trunyan bersama temen-temen, sedikit menyeramkan tapi menyenangkan sekaligus menggemparkan hati dan menambah wawasan tentang budaya sebuah desa yang unik. Jadi buat lo pada yang mengunjungi Bali gue saranin buat datang kesini tapi ya siapin uang receh soalnya kaya yang gue bilang tadi banyak banget warga yang minta-minta uang kecil hehe.

Buat lo pada yang pengen banget liat atau megang yang namanya tulang belulang asli sampai yang namanya tengkorak manusia bisa mengunjungi desa ini hihihihi.. Pokoknya jangan lupa bilang “PERMISI” ya kalo mau foto bareng tengkorak atau tulang belulangnya yang ada nanti gak fokus-fokus loh. Soalnya pas gue foto begitu tuh semua benar-benar terjadi cuy. Gue gak boong ataupun nakutin elo pada hehee cuma kasih info dikit.

Desa Trunyan

Nah pas udah sampe di desa setelah nyeberang jangan lupa bilang “TERIMAKASIH” ya. Mistis banget sih tapi namanya juga kita ada di tempat orang ya ngikut aja sih ya.  That’s my journey at Trunyan Village. Walau ngeri-ngeri dikit tapi buat penasaran.

Cerita perjalanan ini ditulis kembali dari blog Equilibrium atas seijin penulis Arista

2 thoughts on “Mengunjungi Desa Trunyan”

  1. wow saya tidak tahu kalau tengkoraknya bisa di ambil trus buat difoto mejeng .Hebat ya…Kasihan banget keturunannya,leluhurnya dibuat mainan.

  2. Why are you smiling and holding the skull of someone’s ancestor? Do you not know how uneducated and offensive this is?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *