Obyek Wisata

Desa Trunyan

Desa Trunyan

Daerah di seberang danau Batur adalah daerah yang masih asing buat orang kebanyakan. Di situ terdapat sebuah desa yang dipercaya masyarakat Bali umumnya masih asli banget. Ya…, lo bayangin aja kaya badui di Jabar. Cuman saat ini, penduduk desa ini (Trunyan) udah bisa membuka hubungan dengan dunia luar.

Untuk mencapai desa tersebut, kita mesti naek perahu dari kawasan pariwisata Danau Batur. Kalo udah nyampe sana, ya ramah..ramah dikit lah. Jangan terlalu over-akting. Masyarakat disini dikenal sebagai “Baliaga” atau bali yang masih asli. Dan mereka ngga suka keributan.

Hal yang paling unik disini adalah cara mereka menguburkan mayat. Tidak seperti masyarakat Bali umumnya yang membakar mayat dalam upacara ngaben, disini mayat mereka taruh begitu saja di sebuah areal hutan. Anehnya, mayat itu tak akan mengeluarkan bau busuk walo sudah disana selama berbulan-bulan.

Mitosnya, di areal hutan tersebut terdapat sebuah pohon yang bisa mengeluarkan bau harum dan mampu menetralisir bau busuk mayat. Taru berarti pohon, sedang Menyan berarti harum. Jadilah Tarumenyan yang kemudian lebih dikenal sebagai Trunyan

Sumber foto: Rhilyzoro Blog

Tentang Penulis

kru tetap tdb. lulusan D1 teknik informatika yg cinta bali *halah di dalam organisasi tdb, asn merangkap bbrp jabatan sekaligus diantaranya founder, owner, manager, supervisor, employer, secretary, data entry, operator, web designer, web programmer, online marketing, satpam, office boy, tukang parkir, segala aya dah…

  • Ranie

    Mmm…ta kira cerita suamiku hanya cerita palsu.Pingin sekali..ke trunyan..tapi dia bilang jangan kesana banyak tukang palak..setelah baca coment2nya sangat2 mengerikan..sayang sekali ya..semoga ada jalan keluarnya..
    Love balii

  • Ibu eky

    setahun yg yang lalu sy sekeluarga, suami dan dua anak kecil ke trunyan. langsung ke desa utamanya. suasama sepi. tp banyak lelaki yg menawarkan perahu buat ke kuburan. suami sy kaget, kami berempat dtawari biaya tigaratus ribu pulang pergi. semula kami menolak, tp lantaran anak2 kpengen banget lihat mayat2 yg bergeletakan di sana, okelah kami setuju. tiga lelaki yg mengantar kami, ramah lho. mereka gantian bercerita tentang trunyan. sampai d kuburanpun mereka semangat memandu kami. selesai ke kuburan, mereka mengantar kami pulang. d perjalanan hujan lebat, tp mereka tetap semangat mendayung perahu kayu itu walaupun kehujanan. sampai di desa utama kami msh dipandu jalan-jalan ke pura trbesar di situ. mampir ke sebuah warung buat minum teh panas. berinteraksi dengan penduduk yg sdang ngopi juga. Alhamdulillah, mereka sangat ramah, banyak ngobrol dan menjaga kenyamanan kami. waktu kami pamit pulang, mereka ramai-ramai mengantar sampai mobil dan mendoakan kami selamat dan banyak rejeki!!! suami sy bilang, tigaratus ribu yg kami keluarkan sungguh kecil dan tdk sepandan dengan pelayanan mereka. mereka mendayung perahu kayu sambil kena hujan deras, memandu dan menjaga kami. jadi, pengalaman ini luar biasa bagi kami, karena banyak orang malah mendapatkan peristiwa buruk di sana. awalnya supir kami yang orang denpasar keberatan waktu kami minta pergi ke sana. dan mewanti-wanti tdk berhenti di jalan sebelum sampai ke desa utama trunyan. ktnya, orang trunyan asli sebenarnya baik. yg suka bikin masalah bukan orang trunyan asli, alias orang di luar trunyan.

  • asgie

    whuaduh!!! kok ceritanya pd nggak enak semua yah? pdhl besok pengen cabut ke trunyan sendirian..
    jadi mikir2 lagi deh

  • reivanca alui

    Maaf2 ne bagi km2 yg skrng blm k trunyan lagi. Trunyan skrng ga ky yg km2 critakan td trakhir aq k trunyan tgl 1 bln januari 2012. Bagi aq orng kmpung trunyan skrng atau pun dloe penuh keramah tamahan, nyatanya aq k mkam trunyan jam 6 sore wkt bali aman2 aje, jd bgi km2 yg ngmng trunyan bnyak pmalakan aq blg bohoooooooonggggggggg………

  • jhony

    Kemaren aku ama keluarga jalan ke kintamani dan memutuskan untuk turun ke trunyan…disini emang luar biasa pemandangannya, desa yg msh asri bgt,penduduk2 yg msh sangat asli dgn adat dan budaya yg msh sangat kuat. Aku dan keluarga sama sekali ga pernah dapat info apapun soal trunyan kecuali keunikannya yg membuat aku pengen ke trunyan, so aku dengan yakin harus turun ke desa unik ini. Alhamdulillah,aku dan keluarga fine2 aja selama di jalan menuju trunyan, bahkan mendapat sambutan yg ramah dari penduduk2 desa sepanjang jalan ke trunyan, walo emang ga sampe ujung desa trunyan karna cuaca lg buruk dan angin yg kencang. Dan kami dipandu sama 2 orang penduduk asli trunyan yg ketemu di jalan yg sangat2 ramah dan baik…so, menurutku orang2 trunyan orang yg baik, mungkin ada yg memiliki atitude yg kurang baik hanya faktor orangnya saja…bahkan aku sempet berhenti untuk foto2 view di trunyan yg luar biasa indahnya…aku sangat amazed dengan tempat ini…luar biasa, sangat luar biasa…. I love BALI

  • iwan

    aku kerja d bali dah kerja 6 bulan ! p blm sempet ke tarumenyan ! tapi aku minggu dpn mau ke sana ! doain gak da apa 2 yach ?

  • Ardnen

    Bukan hanya Trunyan yg ‘danger’. Aku pernah ke Tanjung Benoa, sampai di sana liat penyu dan burung elang yang menurutku tiada hal yg menarik sama sekali. Anehnya turis2 asing pada happy semua minum sampe main judi sabung ayam di situ. Waktu mau keluar dari lokasi , aku dicegat pemuda yang meminta ‘donasi’ untuk lokasi wisata tsb.
    Dgn tidak iklas ku masukkan uang 5rb ke kotak . Rada maksa dan kayak preman. I really don’t like that..kok org Bali bs kayak gini?tapi aku mencoba berpikir ppsitif aja, mgkn hanya oknum . So…u decide guys.

    • Gex Dewi

      gpp atuh mas,,cuma donasi 5rb. penyu dan hewan2 lainnya di sana kan perlu makan dan perawatan 🙂
      kalo aku minggu kemarin, begitu masuk ke pulau penyu, memang diminta donasi 5rb, tapi mereka bilangnya baik2 kok…dan semua dengan sukarela memberi ^^

  • Bekti Toscha

    waktu gw kesana emang sangat penasaran dengan hal demikian masa orang tanpa di balsam, tanpa dimumi, tampa diapa2in bisa tidak bau,makannya saya pas ada waktu ke bali saya bergegas ke bali tepatnya tgl 15 juni 2012, sesampai disana dekat danau pas naik mobil langsung ditawarkan oleh penduduk sana di tawarkan tour gaet, saya ikuti dia tanpa basa-basi menyelusuri danau, sesampainya tempat pelabuhan kecil di sana saya lang sung disodorkan harga untuk melihat Kuburun Trunyan sebesar Rp.600 Rb, katanya itu sudah murah kalo lewat ujung danau bisa Rp. 1.2 jt. ya mau gimana lagi karena penasaran n masih ada uang lebih, saya ambil lah peket tersebut walau dengan sangat berat hati. tetapi memang ajib semua yang saya dengar SANGAT benar Pemakaman yang sangat ajib.,., tidak bau tidak ada laler, dan udaranya sangat sejuk sekali.,., ya mudah-mudahan objekwisata yang bagus itu bisa di jaga kelestariannya n mudah2an biaya akomodasi para turis bisa dimanfatkan dengan baik oleh warga sekitar.

  • lina

    Mdh2an pengelolaan wisata Truyan emang sdh berubah ya. Pengalamanku ya sama d palak persis = cerita2 d atas. Kejadian th 2009.

  • amos

    apa bisa mikrobus turun ke pinggir danau dan cari perahu penyeber5angan. siapa mau jadi gaet di trunyam, harap hub 08564 123 8818. rencana Juni 2013 bawa romb ke trunyam. trims

    • Asn

      setau saya mikrobus bisa turun ke pinggir danau, hanya saja jalan cukup curam jadi mesti hati2

  • iwan

    emang banyak pemalaknya ya trunyan jadi ragu2 mau ke sana

  • Pingback: Mengunjungi Desa Trunyan | Tour de Bali – Informasi Wisata dan Galeri Foto Bali()

  • Andre Bayu Anggara

    Pengalaman saya batu kmrin tgl 26 maret 2016 sangat menyebalkan berkunjung ke desa trunyan. saya kesana beserta istri saya pakai mobil pribadi.Baru mau turun untuk masuk ke desanyanya sudah dihadang 2 pemuda kekar kayak preman memaksa untuk dipandu dg ngototnya. Saya tolak dg nada lirih dg alasan klo tujuan saya ktmu kluarga yg sdh disana. Akhirnya lolos dan di tengah perjalan masih ada lagi yg mnghadang mnghentikan mobil saya.dg alasan sama akhirnya lolos lagi dan sampailah di dermaga. Didermagapun calonya yg ngoyok2 ada 3 org ya ampun sudah saya tolak tetep aja ngoyok scra bergantian. Blum lagi penjual soevenir keliling memaksa untuk dibeli barangnya dg cara ditunggu berjam2 dsblah saya agar kita mngeluarkan uang. Kok gak tertib ya wisata ini, dan akhirnya dri mslh awal sdh kayak gitu saya batalkan untuk pergi ke makam trunyan. Klo wisatanya begini terus,saya yakin ajur……. padhl sgt potensial…

  • Agunk Kuncoro

    Oknum2 yang menghadang saat memasuki jalan turunan letaknya persis dekat dengan pos polisi ternyata masih ada.

    Dengan nada sedikit memaksa menawarkan tour guide menyebrang ke Trunyan dengan tarif 600ribu/perahu. WTF Namun kami ber4 org menolaknya secara halus dan akhirnya kami berhasil turun mendekati danau.

    Sesampainya dipinggir danau ternyata MASIH ADA LAGI penjual souvenir (IBU2) yang memaksa kami untuk membeli barang dagangannya, mereka mengikuti saya kemanapun saya berjalan untuk mencari spot foto. Tapi akhirnya salah satu teman saya merasa kasihan dan akhirnya membeli souvenir tersebut. Niat awal pergi ke Trunyan kami batalkan karena banyaknya oknum2 tersebut.
    Apakah Dinas Pariwisata setempat tidak mengambil tindakan atas ulah oknum2 tersebut ? Padahal sudah banyak sekali keluhan wisatawan mengenai hal ini.