Obyek Wisata, Perjalanan

Going to Nusa Lembongan

Hallo semuanya !! Selamat bejumpa lagi dengan Mr. Soe !! Di taon 2002 ini, aku mau bagi pengalamanku pada kamu-kamu semua tentang petualanganku ke Nusa Lembongan. Kalian pasti sudah pada tau kalo Nusa Lembongan itu terkenal dengan dunia divingnya, tapi bukan cuma itu lho! Ternyata di sana ada point break yang ombaknya lumayan besar en’ asik buat surfing. Ok, aku ceritakan aja detailnya:Selasa 15 Jan 2002 kira-kira jam 10 malam, aku mendadak ditelpon oleh Widi (temanku masa SMU yang gemar berpetualang, lulusan STP) untuk ikut gengnya ke Nusa Lembongan.

Besoknya, kami kumpul di rumah Joko di Sanur jam 7 pagi. Aku nggak ada persiapan apa-apa, hanya kaos Aaron Chang en’ short MCD yang melekat di kulit serta sedikit uang bekal. Oh ya, tim kami ada 5 orang, yaitu: Joko, Macho, Bowo, Widi serta aku sendiri. Semuanya anak-anak STP, kecuali aku. Jam 8 teng kami berangkat ke pantai Sanur dekat Grand Bali Beach Hotel.

Di sana, kami beli tiket perahu seharga 7000 perak per kepala. Joko dan Macho membawa surfboard mereka yang berukuran 6’5′ dan 6’0. Aku nggak punya board lagi sejak 3 bulan terakhir. Jadi, aku cuti surfing selama beberapa bulan ini. Dari Sanur kami berangkat jam 9 dengan menggunakan perahu bermotor. Di tengah perjalanan, aku melihat seekor ikan terbang yang melintas di depan kami dengan kecepatan tinggi. Bowo dan Joko kaget, sedangkan aku heran, karena baru kali ini aku melihat ikan terbang dengan atraksinya secara langsung. Wow, dunia petualangan memang penuh kejutan.

Tidak terasa 1 ½ jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Nusa Lembongan. Aku menarik nafas dalam-dalam, merasakan udara yang khas dan tidak asing lagi bagiku. Ya, bau laut dengan reef nya yang mempesona. Akhirnya kami turun di Jungut Batu, dan menyusuri pantai dan mencari tempat untuk istirahat.

Kemudian kami berjalan menyusuri pantai dan mencari lokasi untuk nge-camp dan kebetulan Joko membawa tenda doomenya yang pas untuk kami berlima. Selain itu kami juga mencari point break yang bagus untuk surfing. Jam sebelas siang, kami belum juga menemukan tempat yang kosong untuk mendirikan tenda.

Ternyata sepanjang pantai di Jungut Batu penuh dengan perkampungan nelayan, tetapi tidak kumuh. Ada juga restoran dan bar di sepanjang pantai tapi nggak seramai di Kuta. Beberapa bungalow dengan tarif yang berbeda siap menyambut kedatangan kalian di Lembongan. Setelah ½ jam menyusuri pantai, kami makan siang dengan bekal nasi bungkus yang kami bawa dari Sanur. Karena kami nggak nemuin lahan yang kosong untuk nge-camp akhirnya kami mencari losmen dengan tarif yang pas untuk kaum hippies seperti kami.

In the Losmen

Losmen yang sederhana itu bernama Jonny’s Losmen. Kami singgah sebentar untuk menanyakan harga kamarnya. Penjaga losmen ini bernama Pak Pepek (huruf “e” dilafalkan seperti kata “pedal”). Orangnya baik, ramah dan sudah berumur kepala lima. Setelah nego, akhirnya kami sepakat harga sewa 1 kamar 15.000 perak per malam. Wah, murah banget. Setelah ngobrol-ngobrol dengan Pak Pepek, losmen ini merupakan losmen yang tertua di Lembongan yang berlokasi di Jungut Batu (perlu diketahui di Nusa Lembongan terdapat dua wilayah, yaitu Jungut Batu dan Lembongan sendiri).

Losmen ini mengalami masa-masa jaya pada awal berdirinya sekitar taon 80-an. Pak Pepek merupakan pegawai yang dipercaya untuk mengurus losmen ini oleh pemiliknya. Nama Jonny sendiri dipakai secara kebetulan, karena akan mudah diingat oleh para wisatawan. Lambat laun bisnis pemilik losmen ini berkembang pesat dan mulai membuka restoran serta bungalow yang lainnya. Otomatis, segala pengelolaannya diserahkan kepada Pak Pepek sendiri. Menurutku, losmen ini cukup apik dan bersih serta ornamen klasiknya masih tetap dipertahankan.

Pak Pepek mengurus losman ini seorang diri. Fasilitas air dan listrik sangat terbatas. Jam 9 pagi listrik akan padam menyeluruh untuk penghematan pada malam harinya. Sore harinya listrik menyala dan pompa air dijalankan. Jadi harus hemat air ya!! Beliau tidak begitu mengejar keuntungan dari losmen ini dan lebih mementingkan persahabatan. Di samping kamar pak Pepek, kulihat beberapa foto tamu yang pernah menginap di sana dan ditempelkan di dinding. Oleh seorang tamu Aussie, beliau dikasi surfboard ukuran 6’2′ dan disimpan di kamarnya.

Menurut beliau, ada beberapa surf point di Jungut Batu.Yang terkenal diantaranya adalah Shipwreck point, dinamakan demikian karena ada kapal karam di sekitar point breaknya. Ombaknya lumayan besar dan full power. Selain itu, ada juga Coconut beach point yang merupakan tempat kami berlabuh. Akhirnya, kami memutuskan untuk surfing di Coconut point. Aku meminjam surfboardnya pak Pepek yang sudah berwarna kuning dan kecoklatan serta agak berat. Board bagus biasanya berwarna cerah dan ringan.

The Adventure

Jam 12.30 siang, kami mulai paddling ke Coconut point. Widi dan Bowo menyusuri pantai. Setelah 3 bulan nggak surfing, otot-ototku terasa kaku dan tidak terlatih lagi untuk surfing. Apalagi dengan board seperti ini, sangat sulit untuk paddle dengan cepat. Joko menyetop sebuah perahu karet bermotor dan akhirnya kami bertiga nebeng di sana. Tukang perahunya baik dan mengantar kami sampai surf point. Setelah 5 menit menunggu, akhirnya terlihat gundukan air dari kejauhan. Aku paddling sekuat tenaga untuk mendapatkan ombak pertama.

Namun apa daya ukuran boardnya nggak sebanding dengan tubuhku dan ombak pertama terlewatkan begitu saja. Tenagaku sedikit terkuras dan aku kembali paddle sekuat tenaga. Arusnya sangat kuat. Hal inilah yang merupakan momok bagiku dalam olahraga surfing. Aku terseret arus di Coconut point, tetapi tetap tenang. Setelah kuikuti arah arusnya, aku kembali lagi paddle menuju tempat penantian ombak.

Tenagaku sudah habis dan memutuskan untuk kembali ke pantai. Macho dan Joko masih bertahan dan tenaga mereka sudah terbiasa. Karena capek kuikuti arah arusnya dan dan aku dibawa ke pantai perbatasan Lembongan dan Jungut Batu. Di sana aku duduk untuk memulihkan tenaga dan menunggu air surut. Eh, airnya nggak surut juga dan aku nekat menyeberang ke Jungut Batu.

Setelah itu aku ketemu sama Widi dan Bowo. Macho juga kembali ke pantai. Hanya Joko yang masih bertahan. Setelah sekian menit berlalu, akhirnya Joko kembali ke pantai dan kumpul bersama lagi. Hari itu kami habiskan untuk berfoto ria, karena pemandangan pantai dari atas bukit sangat indah.

Sore harinya kami kembali ke losmen. Pak Pepek tidak ada di tempat, karena sedang ada keperluan. Perut rasanya lapar bangeet!! Kami makan lontong dan mie rebus. Setelah mandi, kami berencana untuk menyusuri pemukiman penduduk. Tak lama kemudian, kami menyusuri perkampungan penduduk. Penduduk di sana cuek banget dan masing-masing sibuk dengan aktivitasnya. Di pulau kecil ini penduduknya lumayan padat dan pengaruh modernisasi sudah terasa di sini. Kami menyusuri gang-gang kecil dan jalan setapak. Akhirnya, kami tembus lagi di pantai. Aktivitas pantai di sore hari merupakan tontonan yang menarik buat kami. Beberapa ibu-ibu sedang memetik rumput laut, sedangkan anak-anaknya sibuk membantu.

Kami duduk sejenak di atas perahu yang ditambatkan di tepi pantai sambil menikmati sunset. Sangat indah dan menakjubkan !!! Mirip sunset di pantai Kuta, tapi di sini dengan background perahu-perahu nelayan. Joko dan aku bergantian memainkan ukulele sambil bernyanyi ria. Dan tidak terasa hari sudah malam. Kami kembali ke Losmen dengan menyusuri pantai. Sepanjang pantai, aku lihat bar/ restaurant dan rata-rata full dengan tamu-tamu bule. Pokoknya persis banget dengan Kuta !!

Pak Pepek menunggu kami di Losmen. Malam ini merupakan malam penghabisan karena besok kami akan kembali ke Denpasar. Kami saweran bersama dan hasilnya 8 botol besar + 1 kaleng Bir Bintang menemani malam terakhir kami di Lembongan. Kami mengadakan party kecil-kecilan sambil bercanda ria. Let’s go get stoned !! Macho dan Bowo sudah teler duluan, aku dan yang lainnya masih mengobrol tentang pengalaman-pengalaman kami waktu siang. Malam semakin larut dan kami tertidur pulas di beranda depan. Pak Pepek menemani kami tidur di luar dan meminjamkan kasur lipatnya. Zzzz.

Aku bangun dan jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Kami berkemas dan ransum kami sudah habis. Dengan sarapan jajan Bali yang dijual di sebelah losmen, kami melewatkan pagi terakhir kami di Lembongan. Jadwal perahu datang jam 8. Akhirnya, kami berpamitan dengan Pak Pepek dan wajah beliau menunjukkan raut sedih. Setelah membeli tiket, kami menunggu perahu datang. Karena air pantai lagi surut, perahu datang sedikit ngaret.

Jam 9 pagi kami kembali ke Denpasar dengan naik perahu bermotor yang sama dengan perahu yang mengangkut kami ke Lembongan sebelumnya. Indahnya terumbu karang serta pemandangan alam di Lembongan terlihat jelas dari atas perahu. Satu hal yang tertinggal dan masih menjadi keinginanku adalah diving di Lembongan. Semoga saja suatu saat menjadi kenyataan

Tentang Penulis

the greatest tdb crew ever after. dulu mengasuh kolom “Board Surfing” (kini sudah di-eliminasi). Desription: ex beach surf maniac yang sudah bertobat dari lembah hitam. Kini menjabat sebagai operation di sebuah tour agent. Big fans of punk rock and alternative music, plus comedy rock! Ikut menyumbangkan beberapa tulisan yang so-coool tentang perjalanan hidup dan arti kehidupan *halah. pesan dari soe, please stop being a victim and start to constantly thank god for providing a nice life!

2 comments on “Going to Nusa Lembongan

  1. Terima kasih infonya. Btw Punya nomor telepon Jonny’s Losmen gak ya? pengen kesana juga…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *