Budaya

Galungan dan Kuningan

Hari Raya Galungan dan Kuningan sering disebut sebagai hari “Lebaran”-nya orang Bali. Pada hari tersebut selaen melaksanakan upacara keagamaan, umat Hindu Bali umumnya pada rame-rame pulang kampung bersama keluarga.

Dalam hitungan kalender Bali, Galungan jatuh pada hari Rabu (Buda) Kliwon, wuku Dungulan dan akan jatuh setiap 6 bulan Bali atau 7 bulan kalender masehi (210 hari). Walopun umumnya Galungan terjadi 2 kali dalam setahun, namun di tahun 2007 ini Galungan hanya terjadi 1 kali.

Sementara Kuningan jatuh pada hari Sabtu (Saniscara) Kliwon wuku Kuningan, tepat 10 hari setelah Galungan. Di masa-masa penulis SD dulu, biasanyalibur sekolahan ‘bersambung’ selama 2 minggu, terhitung dari Hari Senen 2 hari sebelum Galungan sampai berakhirnya Hari Kuningan. Tapi kayanya sekarang liburan dipangkas hanya pada puncak upacara saja.

Galungan dan Cerita Mayadenawa

Bagi masyarakat Bali, Hari Galungan punya cerita sendiri. Jaman dahulu tersebutlah seorang Raja keturunan Raksasa yang sangat sakti dan berkuasa bernama Mayadanawa. Dengan kesaktiannya, Mayadenawa mampu berubah wujud menjadi apa saja.

Mayadenawa menguasai daerah yang luas meliputi Makasar, Sumbawa, Bugis, Lombok dan Blambangan. Raja ini terkenal kejam dan tidak mengijinkan rakyatnya untuk memuja dewa serta menghancurkan semua pura yang ada. Rakyat tidak berani melawan karena kesaktian Mayadenawa.

Lalu tersebut pula seorang pendeta bernama Mpu Kulputih. Beliau yang sedih melihat melihat kondisi rakyat akhirnya melakukan semedi di Pura Besakih memohon petujuk para Dewa untuk mengatasi Mayadenawa. Dewa Mahadewa kemudian memerintahkan beliau pergi menuju Jambu Dwipa (India) untuk meminta bantuan.

Singkat cerita, bantuan pasukan datang dari India dan kahyangan untuk memerangi Mayadenawa dipimpin oleh Dewa Indra. Namun Mayadenawa sudah mengetahui kedatangan pasukan ini berkat banyaknya mata-mata. Perang dashyat pun terjadi dengan korban berjatuhan di kedua belah pihak.

Akhirnya pasukan Mayadenawa kocar-kacir dan melarikan diri meninggalkan sang. Namun Mayadenawa belum mau menyerah begitu saja. Pada malam hari di saat jeda perang, Mayadenawa diam-diam menyusup ke tempat pasukan kahyangan dan memberi racun pada sumber air mereka. Agar tidak ketahuan, Mayadenawa berjalan hanya dengan menggunakan sisi kakinya. Tempat inilah yang kemudian dikenal dengan Tampak Siring.

Pagi harinya, pasukan kahyangan meminum air dan keracunan. Dewa Indra tahu racun berasal dari sumber air, sehingga beliau menciptakan mata air baru yang sekarang dikenal dengan Tirta Empul. Berkat Tirta empul, semua pasukan yang keracunan bisa pulih kembali. Sungai yang terbentuk dari Tirta Empul kemudian dikenal dengan nama Tukad Pakerisan.

Dewa Indra mengejar Mayadenawa yang nelarikan diri dengan pembantunya. Dalam pelarian, Mayadenawa sempat mengubah wujudnya menjadi Manuk Raya (burung besar). Tempatnya berubah wujud sekarang dikenal dengan Desa Manukaya.

Namun Dewa Indra terlalu sakti untuk dikelabui sehingga selalu mengetahui keberadaan Mayadenawa walopun sudah berubah wujud berkali-kali. Sampai akhirnya Dewa Indra mampu membunuh Mayadenawa. Darah Mayadenawa mengalir dan menjadi sungai yang dikenal dengan Tukad Petanu.

Sungai ini konon telah dikutuk. Bila airnya digunakan untuk mengairi sawah, padi akan tumbuh lebih cepat namun darah akan keluar di saat panen dan mengeluarkan bau. Kutukan akan berakhir setelah 1000 tahun.

Kemenangan Dewa Indra atas Mayadenawa kemudian menjadi simbol kemenangan kebaikan (Dharma) melawan kejahatan (Adharma) yang diperingati sebagai Hari Galungan.

Pada Hari Raya Galungan, ada tradisi untuk membuat Penjor. Penjor adalah simbol dari Gunung sekaligus simbol dari keberadaan para Dewa. Penjor berbentuk seperti umbul-umbul dengan bahan tiang dari bambu dan hiasan utama janur, padi, kelapa, buah serta hasil-hasil bumi lainnya. Ini sebagai simbol bahwa semua hasil bumi yang kita nikmati berasal dari Tuhan. Penjor biasanya dibuat sehari sebelum Galungan

Rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan

Peringatan Hari Galungan sebenarnya sudah dimulai beberapa hari sebelum Galungan dan berakhir beberapa hari setelah Kuningan.

Galungan minus 6, hari Kamis (Wrespati) Wage wuku Sungsang, disebut Sugimanek (Sugihan) Jawa, adalah hari kedatangan para Dewa ke Bumi. Pada hari ini umat melakukan upacara ditujukan kepada para Dewa dan luluhur

Galungan minus 5, hari Jumat (Sukra) Keliwon Sungsang, disebut Sugimanek (Sugihan) Bali, adalah hari untuk membersihkan diri. Umumnya umat melakukan upacara di pura (matirtha yatra), berdoa dan lebih menghayati ajaran dalam Kitab Suci Weda.

Galungan minus 3, hari Minggu (Redite) Pahing Dungulan adalah hari dimana umat disarankan untuk melakukan semedi untuk menenangkan diri. Pada 3 hari sejak hari Minggu akan datang 3 macam Bhuta yang akan menggoda pikiran kita yaitu Bhuta Galungan, Bhuta Dungulan, and Bhuta Amangkurat. Pada hari Minggu atau Senin ini, umat mulai membuat kue atau tape untuk Galungan.

Galungan minus 1, hari Selasa (Anggara) Wage Dungulan disebut Penampahan, biasanya umat melakukan pemotongan hewan untuk keperluan upacara. Juga melakukan caru/segehan di halaman rumah ditujukan kepada Sang Bhuta Galungan.

Galungan, hari Rabu (Budha) Keliwon Dungulan adalah hari kemenangan atas ujian mental selama 3 hari dari Sang Bhuta Galungan sekaligus simbol kemenangan Dharma melawan Adharma. Persembahan ditujukan kepada Tuhan dan leluhur yang turun ke dunia

Galungan plus 1, hari Kamis (Wrespathi) disebut Umanis Galungan, adalah hari dimana umat bisa menikmati hari kemenangan. Umumnya orang melakukan rekreasi ke tempat-tempat wisata.

Galungan plus 5, hari Senen (Soma) Keliwon Kuningan, disebut Pamacekan Agung, adalah hari untuk berdoa untuk tujuan yang mulia dan kebersihan hati. Pemacekan berasal dari kata ‘pacek’ yang berarti di tengah (5 hari setelah Galungan dan 5 hari sebelum Kuningan).
Galungan plus 10, hari Sabtu (Saniscara) Keliwon Kuningan, disebut Tumpek Kuningan, hari datangnya para Dewa dan luluhur ke dunia, namun hanya sampai pukul 12 siang. Itulah sebabnya umat melakukan upacara sebelum tengah hari berlalu

Galungan plus 35, hari Rabu (Buda) Keliwon Pahang, disebut Pegat Wakan, adalah hari terakhir dari rangkaian meditasi selama 42 hari sejak Sugimanek Jawa.

Walopun sedikit telat, kita kru tourdebali mengucapkan Selamat Hari Galungan dan Kuningan kepada semua yang merayakan. Semoga Tuhan selalu melindungi kita dan dunia beserta isinya.

Tentang Penulis

kru tetap tdb. lulusan D1 teknik informatika yg cinta bali *halah di dalam organisasi tdb, asn merangkap bbrp jabatan sekaligus diantaranya founder, owner, manager, supervisor, employer, secretary, data entry, operator, web designer, web programmer, online marketing, satpam, office boy, tukang parkir, segala aya dah…

14 comments on “Galungan dan Kuningan

  1. wah pas kuningan saya ke bali tuh.oh ya masalah anjing berkeliaran emang bener sempat takut tuh karena banyak anjing liar di jalanan.anjignya dekil-dekil kayak anjing gila smua hehehe2X

  2. oh ya klo bisa belanja Online saya mau barang-barang joger karena ga bisa kesana sendiri ya mungkin klo jualan baju joger ato jangkrik bisa laris tuh !!! hehhehe2X

  3. saya juga waktu kuningan ada di Bali bersama – sama keluarga, kami dibali selama 10 hari, sampai – sampai anak saya tidak mau balik ke jakarta, mau tinggal di bali.

  4. BALI…. Tempat indah, nyaman, pkoknya I Luv Bali dh…
    Tempat favorite aQ itu …. Tanah Lot coz tempatnya exotic bangge… Selain itu aQ suka banged ma yang namanya Pasar Sukowati… surganya para cw”… selain bisa belanja dng harga murah kita bisa sekalian ngelatih kemampuan menawar kita. Tapi dari semua itu yang paling penting kita bisa ngedapetin sesuatu yang paling berharga, yaitu kenangan……………….. Mizzz U bALI…………

  5. BaLLiiiii,,,,,mizZZZ U s0 mUch…
    BaLi ngaNgeNin bUangetz iUbz?cEneng deY bS ke BaLi raMe2 m pYeN’s…UgGh!!!daPet neW eXpRienCe,,,,
    BaLi teMpat tRnyaMan peNuh keNangan…aCCCCCikkk p0ouuLLL!!!

  6. weitz….. seru bgetz critana… jd pgen nech… liat galungan nd kuningan di bali……

  7. Pingback: Penjor « balidwipamaya

  8. Pingback: larascandra

  9. Pingback: Tirta Empul | Tour de Bali – Informasi Wisata dan Galeri Foto Bali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *